Mungkin cuma 1 hari aku melihat dia. Ya, 1 hari dan tidak lebih dari 4 jam.
Mungkin cuma 1 kalimat aku bicara dengannya. Ya, itupun tak lebih dari 1 menit.
Mungkin aku baru mengenalnya, mungkin aku baruu saja melihatnya.
Tapi..
Kenapa rasanya aku senang sekali melihat dia bermain dibawah sana..
Mendengar keluh kesahnya ketika bola yang kau lemparkan tidak masuk ke ring nya.
Hey!
Sadar.. Sadar!!!
Kenapa kau begitu mengagumi orang yang baru saja kau kenal?
Oh, tidak.. Jangan katakan kalau kau sudah menyukainya lagi!
Ahh, aku bingung..
Aku tidak menyukainya..
Aku hanya mengagumimu..
Namun, semua berubah semenjak hari itu.
“Na, cara melempar bola-mu kurang tepat, tuh!” tegurnya.
“Ah, i-iya, kak.. Maaf..” dengan canggung aku mengulang melempar bola basket itu lagi.
Namun, lagi-lagi gagal..
“Aduuh, kamu itu.. Konsentrasi, dong.. Basket itu butuh 100% konsentrasi.. Sini, aku ajarin cara ngelempar yang bener!” ia merebut bola basket yang tadinya di tanganku.
“Nih, lihat caraku memegangnya, lalu kakimu sedikit jinjit, lalu–”
Apapun yang ia katakan tidak aku cerna dengan sungguh-sungguh. Aku hanya bisa termangu ketika melihatnya mencetak three point.
“Nah, lihat, mudah bukan?” ujarnya.
“Ha? Eh, i-iya, kak..” jawabku terbata-bata.
Kemudian ia datang menghampiriku dan memberikan bola oranye itu, “nih.. Coba.. Aku mau liat, kamu ngerti ngga apa yang aku omongin..”
Aku menerima bola itu dengan sangat canggung, entah mengapa seluruh tubuhku gemetar ketika memegang bola sial itu.
Pegang bolanya. Konsentrasi penuh. Pandangan fokus ke depan. Yak, jinjit dan..
“Haaah.. Gagal, kan?” keluh Ricky sambil melipat kedua tangannya. Kemudian, ia menghampiriku dan tiba-tiba..
“Nih, megangnya kayak gini..” ia meragakannya dengan tanganku tetap memegang bola dan ia memegang tanganku!
Alamak..
Mataku berkunang-kunang..
“Ayunkan aja bola nya..”
Haaa.. aku gak bisa fokus sama sekaliii!!
Sesadarnya aku sudah mendengar bola itu jatuh.
“Tuh, kan.. Bisa, kan??”
BRUKK!!
“Ha? Ninaa! Naa! Bangun, woi!!”
–
Hngg..
Aku dimana..?
Aku membuka mataku perlahan, sambil memegangi kepalaku yang benjol.. Mungkin saat jatuh tadi..
Setelah ku lihat dan teliti, ternyata aku ada di Ruang UKS.
Ruangan yang paling ku benci kedua setelah ruang kelasku..
Ckrek..
“Kamu udah nggak apa-apa, Na?” tanya suara lembut itu.
Ngek.
Ricky, cuy..!
“Engg, i-iya, kak..” jawabku pelan. Dia cuma tersenyum kecil.
(inner : -nosebleed-)
“Btw, siapa yang bawa aku kesini, kak?” tanyaku lagi.
“Ya aku, lah.. Siapa lagi? Orang disini nggak ada siapa-siapa..” jawabnya cuek.
“Oh..”
Tak lama kemudian.. Dia mengajakku pulang. Hey, itu artinya dia akan mengantarkan aku ke rumah, bukan?
Yeaa!! Ada untungnya juga gak bisa main basket.
Hahaha..
dear diary, 12 july 2009
Hana termangu sejenak ketika ia selesai membaca diaryku.
“HUWAHAHAHAHA!!!!” dan setelah itu, ia tertawa keras, sialan tuh anak. “Ninaaaa! Dongooo! Gue pikir lo nulis apaan pas diawal, eh, pas ke bawah-bawahnya.. GAJE SUMPAH!!” dan ia terus melanjutkan kesenangan duniawinya itu.
“Rese, lo!”
“Ya, abisnya.. Mbak.. Setidaknya nulis yang pentingan dikit, kek.. Rickyyy mulu yang lo pikirin.. Haha, 1 eskul aja susah minta ampun..”
“Bodo ah..”
Dan hari itu berakhir tanpa tawa tanpa akhir dari Hana.
Fin!
–tendang saia disini
wkwkwk..bikin apaan sih gue XD.. kasi comment attuu XD